Top Ad unit 728 × 90

Berita Terbaru

recentposts

ALMORA DAN LUKANYA

 ALMORA DAN LUKANYA

KARYA : AULYA


Seorang gadis yang tengah duduk dipinggir pantai merenung melihat matahari yang hampir tenggelam. Suasana di sekitarnya sangat tenang namun, tidak dengan pikirannya. Saat ini pikirannya sedang berkelabut

“ Mora, ayo kemari “ panggil seorang gadis di seberang sana.

Almora Nadya Pratiwi, seorang gadis yang berhasil selamat dari bencana tornado yang menimpa tempat tinggalnya. Saat itu usianya baru menginjak 17 tahun.

Setelah kejadian itu terjadi Mora memutuskan untuk pindah ke kota tempat tinggal sepupunya. Kejadian tersebut mengakibatkan kedua orang tua  Mora meninggal dunia.

“ apa yang sedang kamu lakukan Mora?, Kenapa merenung dipinggir pantai?, apa kau tidak suka pemandangnya? Tanya gadis itu kepada Mora.

“ ah tidak, aku hanya sedang menikmati suasana pantai ini Rania. Pemandangan senjanya sangat indah, membuatku teringat kejadian beberapa tahun lalu. Andai ayah dan bunda masih ada, mungkin aku akan menikmati hidup ini bersama keduanya. “ jawab Mora dengan kepala tertunduk, mati-matian  menahan tangisnya.

Rania ikut merasakan kesedihan sepupunya tersebut. Kejadian itu mungkin memang sudah terjadi beberapa tahun yang lalu, namun bagi Almora kejadian tersebut masih menjadi luka yang belum kering hingga saat ini.

“ Mora, mungkin luka mu sekarang masih basah dan belum kunjung kering, namun jika terus disentuh luka itu akan semakin parah dan akan terus basah. Sama seperti halnya kejadian tersebut. Jika kamu masih sering mengingatnya, kamu akan terus merasakan kesedihan tersebut, tapi jika kamu mau, kamu akan bisa perlahan-lahan. “ jelas Rania sambil memeluk Mora dan mengusap-usap Pundak Mora.

Mora diam dengan air mata yang telah lolos membasahi pipinya. Ia masih sangat amat terpukul atas kepergian kedua orang tuanya. Dulu Mora selalu berdoa kepada penguasa langit agar kedua orang tuanya bisa Kembali seperti semula walaupun mungkin mustahil hal itu terjadi. Namun, Mora percaya didunia ini tidak ada yang mustahil jika tuhan yang telah berkhendak.

 

Flashback on

28 Mei 2018, Almora dengan seragam putih abunya berjalan disepanjang jalan menuju rumahnya. Wajah Almora yang selalu menawan ditambah dengan senyum manis khas Mora. Membuat wajahnya semakin indah dipandang.

Saat itu Almora berjalan kaki untuk pulang kerumahnya bertemu dengan ayah dan bundanya. Jarak rumah dan sekolah Mora tidak terlalu jauh, hanya sekitar 10-15 menit.

Mora berjalan sambil sesekali melompat kecil disela-sela langkahnya. Ia menggendong tas hitam putihnya dipundak. Dan terus berjalan dengan penuh semangat.

“ assalamuaaikum, Mora pulang “ ucap Mora saat membuka pintu rumahnya.

Mora membuka Sepatu miliknya dan meletakkannya di rak Sepatu yang telah disediakan. Ia masuk kedalam dan menghampiri ibundanya yang sedang mencuci piring didapur.  Mora meraih tangan ibundanya dan mencium punggung tangan ibundanya.

“ eh anak bunda sudah pulang, Mora sayang mau makan dulu?, atau mau ganti pakaian dulu? “ tanya sang bunda kepada Mora.

“ Mora mau ganti pakaian dulu bund, nanti kalau sudah ganti pakaian, Mora turun untuk makan siang bersama “ jawab Mora sambil tersenyum manis khas Almora Nadya Pratiwi.

“ ya sudah, kalau begitu bunda akan siapkan dulu makanan dimeja, sambil menunggu Mora ganti pakaian dan menunggu ayah yang pergi membeli barang ditoko. “ ujar bunda Mora

Mora menganguk setuju dengan ibunda. Mora menaiki tangga rumahnya satu per satu hingga sampai didepan pintu kamarnya. Mora masuk dan mengganti pakaianya, kemudian turun untuk makan bersama ayah dan bundanya

Dibawah bunda Mora sedang menyiapkan makanan di meja makan, ia menyusun piring lengkap dengan sendok dimeja makan. Saat sedang mempersiapkan makanan, pintu rumah terbuka. Dibalik pintu ada ayah Mora yang sudah kembali dari sebuah toko

Ayah Mora meletakkan kantung plastik yang berisikan beberapa bungkus coklat kesukaan Mora. Ia meletakkan kantung tersebut diatas meja ruang tamu. Kemudian ia duduk dikursi meja makan dan menunggu Mora selesai berganti pakaian.

Tak berselang lama, terlihat Mora yang sedang menuruni anak tangga. Dengan pakaian yang telah ia ganti menjadi baju kaos polos berwarna hitam bergaris putih. Dan rambut yang ia ikat dengan rapih.

Mora kemudian duduk di kursi meja makan. Disusul oleh sang ibunda. Bunda Mora mengambilkan nasi ke piring Mora dan ayah Mora. Hal tersebut sudah menjadi kebiasaan di keluarga mereka. Setelah makanan siap, mereka berdoa bersama terlebih dahulu kemudian menyantap makanan dengan lahap dan penuh kebahagiaan.

“ Mora, bagaimana sekolah kamu hari ini?, apa ada masalah? “ tanya ayah Mora.

“ hmm, semuanya lancar ayah, hari ini semuanya baik-baik saja. Bahkan hari ini Mora mendapatkan nilai 100 di 2 mata pelajaraan. “ jawab Mora sambil tersenyum penuh bangga kepada ayah bundanya.

“ wahh, hebatnya anak bunda, iyakan yah…, kalau terus begitu ayah sama bunda akan kasih kamu hadiah “ ujar bunda Mora.

“ betul itu bund, kalau Mora nilainya bagus, nanti ayah belikan ponsel baru, ponsel keluaran terbaru. “ timpal ayah Mora

“ wahh, beneran yah?, janji ya ayah, bunda? “ ujar Mora dengan semangat.

“ ayah janji, kalau misalnya nilai Mora bagus, ayah belikan ponsel keluaran terbaru, spesial untuk putri kebanggaan ayah dan bunda “ ucap ayah Mora sambil tersenyum.

“ Mora janji, Mora akan dengan semangat agar nilai Mora selalu bagus yah, bunda “ ujar Mora dengan semangat berjanji kepada kedua orang tuanya

Kedua orang tua Mora tertawa melihat semangat putri semata wayangnya tersebut. Mereka melanjutkan menyantap makan siangnya dengan lahap.

 

4 Juni 2018, langit dikota tempat tinggal Mora terlihat sangat gelap sejak beberapa hari ini. Seperti akan turun hujan lebat. Namun, tak pernah kunjung datang. Almora tetap melakukan aktifitas seperti biasanya. Ia pergi bersekolah di antar oleh sang ayah. Dan akan pulang berjalan kaki. Mora telah siap dengan seragam sekolahnya, ia tengah menyantap sarapan yang telah disiapkan oleh ibundanya tersebut.

                “ hmm, roti bakar bunda yang paling enak sedunia…. “ puji Mora di sela menyantap roti bakar buatan ibundanya tersebut.

                “ bisa saja anak bunda ini, segera habiskan sarapan kamu, nanti kamu bisa terlambat loh… “ ujar bunda Mora sambil tersenyum mendengar pujian putrinya tersebut.

                “ siap bunda “ ucap Mora sambil memberikan hormat kepada ibundanya.

Mora melahap roti bakarnya dengan cepat dan menggendong tas ransel miliknya.

                “ bunda, Mora pamit sekolah dulu ya “ pamit Mora kepada ibundanya.

                “ belajar yang rajin ya nak, jadi orang yang berguna  untuk Masyarakat dan bangsa. Dimana pun ayah dan bunda berada kami akan selalu mendoakan kamu nak. Tumbuh jadi anak hebat ya. Selamat ulang tahun putri cantiknya bunda…., sepulang sekolah nanti kita rayain ulang tahun kamuy a. “ ucap bunda Mora sambil tersenyum.

                “ Mora kira bunda lupa, kalau hari ini Mora ulang tahun, tidak usah yang meriah bund, cukup kue serta ada ayah dan bunda saja itu sudah cukup. “ ujar Mora

                “ mana mungkin sih bunda lupa, kalau hari ini anak kesayangan bunda  ulang tahun. Nanti bunda minta tolong ayah untuk belikan putri cantiknya ini kue, lalu kita rayakan sama-sama, sudah sana berangkat nanti Mora terlambat loh “ucap bunda Mora.

 

Mora mencium punggung tangan ibundanya, da berjalan menuju halaman rumahnya. Ia menghampiri sang ayah yang telah siap untuk mengantar Mora menuju sekolahnya.

Sesampainya didepan gerbang sekolah, Mora berpamitan kepada ayahnya sebelum masuk kedalam sekolah

                “ Mora masuk ya yah, ayah hati-hati ke tempat kerjanya “ pamit Mora kepada ayahnya.

                “ iya nak, kamu belajar yang rajin ya, supaya nilainya terus bagus. Ingat yak amu kebanggaan ayah dan bunda. Ayah dan bunda selalu sayang sama Mora. Selamat ulang tahun anak ayah… “ ujar ayah Mora

 

Mora tersenyum kearah sang ayah “ makasih yah “ ucap Mora sebelum akhirnya ia masuk kedalam sekolah. Setelah melihat Mora masuk kedalam sekolah, ayah Mora menuju ke tempat ia bekerja di salah satu kantor di kota tempat tinggalnya.

 

4 JUNI 2018, pukul 11.09

Cuaca hari ini semakin buruk di banding sebelumnya. Suara gemuruh Guntur terus terdengar, langit yang kian menggelap semakin terlihat, awan kumulonimbus dalam bentuk yang tidak biasa, dan udara dingin yang menusuk kulit.

Dalam keadaan seperti ini Almora terus memandang ke arah luar jendela. Ia merasa akan ada bencana yang akan terjadi. Ia terus berdoa agar ia dan keluarganya diberikan keselamatan. Mora juga terus berusaha membuang perasaan-perasaan tidak enaknya.

Mora mengalihkan pikirannya dengan mendengarkan musik kesukaannya. Hal itu berhasi membuat Mora sedikit tenang. Namun, hal itu tak berlangsung lama.

Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang, hingga membuat beberapa barang dikelas Almora berjatuhan. Tak hanya itu, sangking kencangnya angin berhasil membuat beberapa benda berat diluar kelas Mora terjatuh.

Mora terus berusaha berpikir positif, dan terus berdoa kepada tuhan yang maha esa.

Namun, kejadian selanjutnya membuat Mora semakin gelisa h. Beberapa orang disekolah berteriak melihat pusaran angin hitam yang memutar tak jauh dari sekolah Mora.

Mora keluar dari dalam kelas, dan melihat langsung putaran hitam tersebut dengan jelas. Orang-orang berteriak dan berlarian keluar dari gedung sekolah.

Mora mematung tak tau harus apa, beruntungnya ada seorang teman Mora yang menarik Mora untuk bersama keluar dari gedung sekolah.

Diluar sekolah para warga berbondong-bondong lari dari tempat tinggal mereka. Begitupun dengan Mora dan Vincent teman dekat Mora. Mereka berdua berlari bersama dengan tangan yang saling menggenggam.

Saat berlari Mora teringat dengan keluarganya, ia langsung teringat dengan ibundanya dirumah. Mora melepas tangan Vincent dan hendak berlari kearah perumahan tempat tinggal Mora. Namun, hal itu berhasil di cegah oleh Vincent, karena pusaran hitam itu kian berjalan dengan cepat.

                “ Vin, bunda masih ada di rumah Vin “ teriak Mora yang ketakutan

                “ Ra, orang-orang sudah pergi semua ke tempat yang aman, Ra “ ujar Vincent

Mendengar ucapan Vincent entah mengapa ia berkata bundanya masih ada di dalam rumah, namun karena melihat pusaran hitam kian mendekat, keduanya berlari sangat kencang untuk menghindari pusaran hitam tersebut.

Orang-orang berlarian untuk pergi ke tempat yang lebih aman. Kota yang semula tenang kini menjadi riuh, teriakan histeris para warga membuat suasana semakin mencekam. Satu-per satu rumah ikut terangkat akibat pusaran hitam ganas tersebut.

Mora dan Vincent terus berlari, sambil menangis Mora berlari menuju tempat yang aman. Mereka berdua mengikuti arahan orang-orang yang berada di depan tak jauh dari mereka.

Mora terus teringat  dengan kedua orang tuanya, ia terus memikirkan kedua orang tuanya. Dalam hati Mora selalu berdoa agar kedua orang tuanya selamat, dan dapat berjumpa di pos evakuasi.

Keduanya hampir tiba di pos evakuasi, puaran hitam it uterus memutar dan mengangkat benda-benda yang berada tak jauh dari pusaran tersebut.

Saat tiba di pos evakuasi, keduanya duduk dengan nafas terpenggal-penggal. Mora duduk sambil menangis mengingat kedua orang tuanya. Mora melihat sekeliling berharap menemukan orang tuanya.

Mora bangun dari duduknya, ia berjalan di kerumunan banyak orang, ia terus mencari keberadaan kedua orang tuanya. Mora terus berharap kedua orang tuanya berhasil selamat dan berada di pos evakuasi.

Vincent menghampiri Mora dan berusaha menenangkan Mora

                “ Ra, kamu tenang dulu ya, aku bakal bantuin kamu cari ayah dan bunda kamu “ ujar Vincent menenangkan Mora

Mora masih meneteskan air matanya, ia sangat khawatir dengan keadaan kedua orang tuanya. Ia teringat dengan ucapan ayah dan bundanya sebelum ia pergi sekolah pagi tadi.

                “ bunda, kata bunda sepulang sekolah kita akan merayakan ulang tahun Mora bukan?, lantas apa hal itu maih bisa terjadi?, tuhan Mora mohon, selamatkan ayah dan bunda Mora, tuhan… “ batin Mora terus berdoa.

 

4 JUNI 2018, pukul 17.12

Pusaran hitam itu menhilang dan menyisakan kota yang berantakan. Banyak puing-puing bangunan rumah yang hancur akibat pusaran hitam tersebut.

Banyak korban jiwa serta orang yang dinyatakan hilang setelah kejadian tersebut terjadi. Tim evakuasi terus melakukan pencarian orang-orang yang dinyatakan hilang oleh pihak keluarga. Termasuk kedua orang tua Mora.

Mora dan Vincent duduk alas yang telah disediakan oleh panitia evakuasi. Banyak bantuan dari kota lain yang telah berdatangan. Selain Tim evakuasi, tni dan tenaga medis lainnya telah sampai di tempat kejadian.

Begitupun  dengan keluarga Mora. Adik dari bunda Mora datag setelah mendapat kabar melalui berita yang sudah menyebar luas di sosial media.

Tante Ema dan keluarganya datang menjenguk Mora sekaligus menguatkan Mora dikondisi terpuruuknya saat ini.

                “ Mora, jangan pernah merasa sendirian ya nak, kami ada di sini, kami keluarga m juga nak “ ujar tante Ema

                “ makasih banyak tante “ ucap Mora dengan kondisi memperihatinkan

Mora terus terbayang wajah ayah dan bundanya, ia selalu teringat kata-kata terakhir keduanya. Seandainya waktu bisa di putar mungkin Mora akan mengajak kedua orang tuanya untu meninggalkan sementara tempat tinggalnya.

Namun, ini adalah bencana, tidak ada yang tau apa yang akan terjadi. Semuanya sudah jalan takdir tuhan. Sekuat apapun Mora mencegah jika memang sudah waktunya pasti akan terjadi.

 

7 JUNI 2018, pukul 10.05

Pagi ini tim evakuasi telah menemukan dua mayat yang menjadi korban bencana beberapa hari yang lalu. Kedua jenaza di bawa ke rumah sakit untuk di periksa identitasnya.

Mora masih sering menangis dan terus berdoa agar tuhan mempertemukannya dengan kedua orang tuanya. Kini ia telah Ikhlas dengan kondisi kedua orang tuanya. Ia hanya ingin di pertemukan dengan kedua orang tuanya, entah dalam keadaan bernyawa ataupun tidak. Ia hanya ingin melihat kedua orang tuanya untuk  terakhir kalinya.

Tante Ema beserta keluarganya masih dengan sertia mendampingi Mora dan Vincent.

Vincent adalah anak sebatang kara yang tinggal seorang diri di salah satu rumah kontrak, yang berada tak jauh dari rumah Mora.

Kedua orang tua Vincent telah berpulangsaat Vincent telah berusia 10 tahun. Ia tinggal bersama neneknya awalnya. Namun, beberapa tahun yang lalu nenek Vincent menyusul kedua orang tuanya. Sehingga Vincent tinggal seorang diri. Ia menyewa salah satu rumah kecil sebagai tempat tinggalnya. Dan bekerj sambil bersekolah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Vincent terus mencoba menghibur Mora, walaupun nihil Mora terus merenung, dan menangis menunggu kabar dari tim evakuasi.

 

7 JUNI 2018, pukul 19.20

Tim evakuasi telah mendapatkan identitas dua orang jenazah yang telah di temukan pagi tadi. Dari data orang hilang dapat dicocokkan bahwa kedua jenazah tersebut adalah kedua orang tua Almora Nadya Pratiwi.

Mora mendapatkan kabar tersebut berdiam dan mematung. Apa tuhan mendengar doanya?, ia memang sudah Ikhlas dengan apapun yang terjadi namun, apa harus di pisahkan dengan kematian?, mengapa semuanya terasa sakit?, oh… tuhan Mora hanyalah gadis baik yang periang. Tapi mengapa bisa engkau menitipkan rasa sakit yang amat sakit untuk Mora si gadis dengan senyuman manis khasnya itu.

Dada Mora terasa sesak seolah oksigen di sekitarnya menipis, ia merasa amat terpukul. Bahkan berdiri pun Mora sudah tidak sanggup lagi. Dengan siapa nantinya ia tinggal?, siapa yang akan ia temani untuk merayakan ulang tahunnya di tahun yang akan datang?, ia belum siap dengan semuanya.

Mora di temani Vincent dan tante Ema beserta keluarganya untuk pergi ke rumah sakit melihat peti jenazah kedua orang tuanya.

Sesampainya di rumah sakit Mora langsung histeris melihat peti jenazah kedua orang tuanya yang hendak di tutup.

                “ tolong jangan di tutup dulu “ Terik Mora dari kejauhan

Mora melihat isi peti tersebut. Mora tak kuasa menahan tangisnya Ketika melihat peti tersebut. Mora terduduk lemah di tengah kedua peti orang tuanya.

                “AYAHH,BUNDAAA,kenapa ayah dan bunda pergi?, setelah ini siapa yang menyiapkan roti bakar kesukaan Mora bunda?, Siapa yng akan mengantar Mora kesekolah ayah?, ayah, bunda ayo rayakan ulang tahun Mora sama-sama, ayah ay obeli kue untuk Mora, ayo ayah…, ayo kita sama-sama tiup lilin. Ayo nyanyikan happy birthday untuk Mora. Bukan hadiah ini yang Mora mau ayah bunda, kenapa kalian pergi meninggalkan Mora seorang diri?, lantas setelah ini kepada siapa Mora mengadu, jika bukan kepadaa ayah dan bunda?. Keaa kalian harus pergi di hari ulang tahun Mora?, apa kalian membenci hari kelahiran Mora?, tuhan kenapa tuhan ambil mereka dari Mora?, mereka berdua orang yang paling berharga di hidup Mora, tapi kenapa tuhan ambil?. “ teriak Mora dengan tangisan kepedihan. Ia terus berteriak. Ia merasa bukan ini yang ia harapkan.  Ia memang Ikhlas tapi tidak secepat ini…

Tidak ada orang yang ingin di pisahkan oleh orang yang paling ia cintai dan ia sayangi, apalagi dipisahkan dengan kematian. Itu adalah salah satu hal yang paling menyakitkan. Bagi semua orang kematian adalah hal yang menyedihkan dan menakutkan.

Kita tidak pernah tau kapan kematian datang. Namun, pastinya hal itu akan datang di hari nanti, sebelum semuanya terlambat katakanlah kata sayang yang belum sempat di katakan kepada orang yang paling berharga di hidup ini. Sebelum akhirnya menjadi sebuah penyesalan belaka.

 

9 JUNI 2018

Proses pemakaman kedua orang tua Mora telah selesai, kedua orang tua Mora telah di kebumikan pagi tadi. Namun, Mora tak ingin pergi meninggalkan tiang lahat kedua orang tuanya. Ia tetap setia di bawah guyuran hujan memeluk tiang lahat orang tuanya.

Tante Ema juga berada di samping Mora ia memakai Mora payung, namun, Mora meminta agar hanya tante Ema saja yang memakai  payung tersebut.

Mora memeluk tiang lahat kedua orang tuanya yang bersebelahan. Ia masih merasakan kesedihan yang terdalam. Ia selalu berpikir seandainya waktu bisa di putar ia akan menerobos pusaran hitam untuk mencari kedua orang tuanya. Namun, sayang seribu sayang semuanya telah terjadi.

                “Mora, ayo pulang yuk sayang, nanti Mora sakit “ bujuk tante Ema.

                “ tante duluan aja, Mora masih mau menemani ayah dan bunda Mora. “ ujar Mora menolak ajakan tante Ema.

                “ ayah dan bunda bakalan sedih kalau ngeliat putrinya sedih. Ayo kita pulang ya sayang ya… “ bujuk tante Ema sekali lagi.

                “ klau mereka sedih karena Mora sedih, lantas mengapa menjadi alasan Mora menangis tante?, Mora masih mau disini tante, Mora mau peluk ayah dan bunda terus. “lagi dan lagi ajakan tante Ema di tolak oleh Mora.

 

Rania meghampiri ibu dan sepupunya tersebut.

                “Mora, ibu ayo pulang hujannya semakin deras. “ ucap rania di balik paying putih.

                “ kalian duluan aja, aku masih mau disini. “ ucar Mora dengan tatapan kosong kearah  gundukan kedua tanah yang berada di depannya.

                “ Mora, nanti kamu sakit, itu kamu udah basah kuyup, nanti kamu masuk angin. “ ucap Rania.

Namun, sama seperti ibunya Rania tidak berhasil membujuk Mora. disaat keduanya sedang kebingungan, Vincent datang menghampiri ketiganya. Ia mendekat kearah Mora.

                “ aku tau apa yang kamu rasakan sekarang. Aku pernah kehilangan  orang yang aku sayangi, bahkan saat itu usiaku masih anak-anak yang masih mengira bahwa kedua orang tuaku hanya tertidur karena Lelah perjalanan jauh. Namun, nyatanya mereka terlalu lama tertidur hingga tak kunjung bangun kembali. Sakit?, tentu rasanya menyakitkan. Tapi kita hanyalah manusia biasa. Aku tumbuh dengan rasa penyesalan, karena aku belum sempat mengatakan bahwa aku sangat menyayangi mama dan papaku, tapi sepertinya sebelum aku mengatakan hal tersebut keduanya tau bahwa aku sangat mencintainya. Yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah mengirimkan doa kepada mereka. Karena menangis pun sudah tidak ada gunanya. Jadi, ayo bangkit, kita semua ada di sini bersama kamu Ra…, mereka akan sedih kalau kamu terus bengini. Ayo buat ayah dan bunda Bahagia di atas sana. Dengan cara tunjukkan kepada mereka kalau kamu kuat Ra…, dan kita akan selalu mendukung kamu. Almora Nadya Pratiwi, Perempuan hebat, Perempuan kuat, begitu bukan?... “  ujar Vincent yang berhasil membuat Mora tersihir. Benar apa yang dikatakan oleh Vincent, sekarang menangis tidak ada gunanya, karena semuanya telah terjadi.

Mora bangun dari duduknya. Ia memandangi kedua ting lahat orang tuanya.

                “ Ayah, Bunda, Mora pamit ya, Mora janji akan sering-sering kesini untuk cerita sama ayah, sama bunda…, kalian tenang saja, disini Mora banyak yang sayang, sekarang istirahatlah dengan tenang…, I love you ayah… bunda… “ ucap Mora sebelum akhirnya ikut pergi bersama Vincent, Rania dan juga tante Ema.

 

 


ALMORA DAN LUKANYA Reviewed by Andi Darwisa Oktora on Juni 21, 2024 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by Literasi Pendidikan ©2018
Powered By Blogger, Designed by Negara Mangkubumi

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Gambar tema oleh enot-poloskun. Diberdayakan oleh Blogger.